Lihat TV Saja, Keluar Rumah, Kamu Akan Kecewa
December 12, 2011
Entah, kopi hari ini rasanya getir, tak nikmat sama sekali. Jalanan juga banyak kacaunya. Orang-orang pada seenak udelnya sendiri. Sampai-sampai saya terpaksa lagi ( Entah yang keberapa) harus menendang pantat mobil Alphard yang menyerempet saya. Sedangkan di depan samping saya sedang berjalan pak tua lagi ngangkut barang dagangannya berjalan kaki. Saya ingat mobilnya berhenti dan memanggil saya. Aku ambil dan pakai dulu sandal saya yang sempat terlepas. Lantas aku hampiri dia, aku acungkan jari tengah tanpa banyak omong, dan melengos pergi. “Bicara itu mudah, pak!! Untung saya belum punya pistol tadi”. Untung tak ada polisi. Ada pun saya lebih baik kabur. Atau, pak tua tadi yang jadi korban?. Lebih baik mobil penyok daripada mencecerkan dagangan pak tua.
Baru kemarin malam saya ke rumah kawan kolektor pita hitam gila-gilaan dan saling bertukar cerita. Sampai saya ingat dia tidak menyangka kalau saya sedikit punya “kelainan” di balik wajah cupu saya. Sebentar, apakah saya secupu itu?. Saya coba lagi menggali memori masa lalu.
Jaman masih SMP, saya sudah sering makan gak bayar, mencuri jajan di kantin, coret-coret toilet sekolah sendiri. Bukannya saya pendiam, tapi saya suka melakukan itu semua sendirian, tanpa perencanaan. Alasan waktu itu sih, uang saku saya sedikit. Biaya sekolah sudah mahal. Ya sudah, kemiskinan gak menyediakan banyak pilihan bukan?. Tapi, justru dari keadaan ini kamu akan merasa beruntung jika bisa mengombinasikannya dengan berbagai macam cara. Di bantu dengan tatakan wajah polosmu.
Jaman SMA kebiasaan ini terus berlanjut. Lama-lama saya juga mempertanyakan orang tua saya kenapa di masukkan ke sekolah yang mahal. Agamis?. Sama aja, di sini sholat, ngaji cuma fungsinya Cuma agar terbiasa, hapal dan berlanjut sebagai pencitraan sebagai anak-anak sholeh. Sudah biaya mahal, jajan di koperasi juga mahal. Kalah deh sama warung kecil sebelah rumah. Pernah sekali ketahuan dan dikejar sampai ke kelas-kelas. Untung saja dia capek lari, atau tidak mau aku mengutarakan alasanku di ruang BP (meski jelas-jelas salah nantinya). Aku terselamatkan oleh wajah polosku, sekali lagi. Ku kira guru ini hapal mukaku, ternyata pas ketemu dia diam saja.
Pernah ada kejadian lucu. Telah ditemukan kaset bokep, dan berpuluh-puluh anak menjadi tersangka sampai anak-anak yang jelas-jelas tidak menonton bokep pun kena. Akhirnya, saya menulis di tembok belakang sekolah “L****n itu babi apa manusia? Iblis aja punya hati”. Gak logis sih, tapi ternyata ini cukup menampar guru saya. Akhirnya saya berdiri di depan banyak guru termasuk kepala sekolah di aula masjid. Teman saya di samping Cuma geleng-geleng kepala. Saya berusaha memaparkan dengan nada slengean, sebelum diam dibentak kepala sekolah. Pertanyaanya adalah kenapa saya tidak dikeluarkan?. Apa karena masalah kebodohan guru ini tidak baik untuk di ketahui publik? Atau takut karena dengan dikeluarkannya saya akan semakin berbahanya posisi sekolah ini. Lebay ya?
Kemudian saya bergumam dalam hati,
“Yang kacau itu saya apa orang-orang sih?. Kalau saya yang kacau, kenapa tidak sedari dulu saya dibuang, di kucilkan, atau sekalian di matikan. Di penjara saja cuman semalam. Belum puas aku rasanya di pukuli malam itu. Kalau yang kacau orang-orang kan tak apa, berarti saya Cuma tinggal membela diri saja kan?.”
Dan sekarang, rupa-rupanya dunia kampus mencoba menguji batas kesabaran saya. Di mulai dari birokrasi tai anjing!, Dosen-dosen feodal, pemilu BEM. Aduh, saya cuman bisa tersenyum kecut melihat ini semua.
Kenapa jadi mahasiswa?
Saya tanya balik,
Kemana saja seharian? Mabuk?
Hidup sudah di tata sedemikian rupa. Melawan juga percuma.
Hidup itu susah, hidup itu berat. Lebih baik berkesenian saja
Atau, lihat TV saja banyak acara bagus bikin bahagia. Keluar rumah sedikit saja, kau akan kecewa

untung saya masih jadi adik kelasmu, dan tidak terlibat semua kekacauan mu ! hahahaha
Sebenarnya dunia sudah kacau sejak tertimpa badanmu he! Buahahaha
aku tunggu kau di kotaku ! sama sama kita buat kekacauan itu ! hahahaha
itu karna ulul punya energi berlebih dalam mengekspresikan dirinya. jadi itulah yang terjadi.. menurutku itu normal. bahkan banyak sekali orang iri dengan cara anak anak yang punya energi lebih itu. bangga lah lul! dan lagi.. ulul skrg udah dewasa, ulul pasti TAU BANGET kemana energi ini lebih baik disalurkan.. :p
*sesama manusia berenergi lebih* ngahahahah
btw, nice words!
Huaa Hilda, manusia berotot lebih, Hahaha
Oke, aku nyatakan aku masih belum ingin dewasa, dan akan terus aku salurkan bukan pada siapa-siapa. Bahwa, solusi dari Mario Teguh itu jauh dari dunia keseharian kita Hahahaha
Oke, jangan sampai anakmu mengenal aku. :p
btw, thanks kunjungannya, gantian aku singgah ke rumah katamu
wuih, bagi orang orang yang tak dapat membahasakan kenakalan mereka, anda adalah PAHLAWAN!
Dan, bersiaplah berteman dengan kesunyian
ngomong2 enak yo dadi sampean. gak hidup dibawah tekanan kesadaran. menjadi sampean pilihannya cuman 2: berpikir tinggi sekali atau nggak berpikir sama sekali. karna diantara dua pilihan itu ada banyak toleransi yang menyiksa kesadaran
memang kadang2 dalam hidup kita bicara realitas bukan mimpi.bicara orang lain bukan diri sendiri. peduli apa mereka sama pengguna motor kayak kita.toh mereka punya alphard.ya kan?
) btw, tulisanmu kacau sekali. lagi PMS lul? hahaha.
tunda aja kedewasaan itu, kalo ulul kuat. hahaha!