Ah, Equilibrium. Kekacauan yang indah

October 15, 2011

Ada tiga kecenderungan cara belajar dari setiap individu. Yang akhirnya untuk sementara dijadikan sebuah metode atau modal. Dari bahasa ilmiah disebutlah metode visual, auditorial dan kinestetik. Intinya metode visual lebih cenderung ke arah berimajinasi, berpikir. Lalu metode auditorial, ditemani kepekaan labih kita terhadap bebunyian di sekitar yang membuat kita rileks sehari-hari. Lalu, kemudian metode kinestetik yang lebih mengarah ke orang-orang yang tidak bisa diam, authis atau seperti kuli yang lebih unggul di fisik dalam proporsi yang sangat besar.

Sepertinya saya adalah alien. Sengaja saya definisikan seperti itu. Saya jarang niat sekali duduk serius menonton TV, punya koneksi internet di rumah pun tak banyak saya manfaatkan untuk upgrade, update atau apapun itulah namanya. Cuma saya andalkan untuk posting, tugas dan hal-hal privasi. Biasalah, orang-orang sakit kayak gini sudah mati rasa. Sadar gak sadar itu kondisional. Tapi, alien juga sangat berbahaya. Invasinya dengan diam, lebih daripada sekedar bom buku.

Waktu saya banyak habis di jalan-jalan. Merayakan sampai sesak, hiruk pikuk kehidupan manusia. Kawan, lawan, orang-orang sakit, orang-orang waras, berdasi ataupun ber-koteka sekalipun. Kota Malang sudah mulai macet, sudah mulai banyak asap dan buat saya itu kacau. Tapi, tersenyumlah. Biarkan mereka berlari. Berlalri sampai mati, mengejar kebahagiaan menurut mereka sendiri-sendiri.

Kecenderungan cara belajar pun juga tercermin dalam perilaku seseorang ketika mengendarai motor.
——————————————————————————————————————————————

Orang-orang visual cenderung peka pada matanya, pada warna, rapi, teratur jelas tujuannya, masa depannya. Entahlah mereka bangga atau merasa congkak mempunyai mobil yang berwarna cerah, berbadan gede, sampai-sampai orang lain seakan-akan tidak boleh menyalip dari sisinya. Atau, pengendara sepeda motor yang sangat cerdas dengan mengombinasikan, memodifikasi mesin-mesin, airbrush dan segala macam aksesoris lainnya. Tak peduli itu produk China, Amerika, Zimbabwe atau beli second di pasar bekas Comboran misalnya. Yang paling primer kan mereka setidaknya bisa menjaga status mereka di depan khalayak. Khalayak?. Semoga saya bukan termasuk di dalamnya. Mereka-mereka ini adalah perencana yang baik buat masa depannya. Modern, ekslusif, gaul, dan lain-lainlah. Seperti yang dikemukakan orang-orang kebanyakan, “ Kita dewasa ini adalah generasi visual. Gak usahlah repot-repot buat tulisan penuh. Saya tidak mengerti. Buatlah sesimple mungkin, lugas, tak-tis dan jelas.” Begitulah idiom-idom apologi mereka. Dan, impactnya bisa kita lihat di kejadian sehari-hari di sekitar kita.

Orang-orang auditorial cenderung pada telinga. Sensor bebunyian yang nyaris kuat. Bahwa hidup itu indah. Musik, bebunyian alam, harmoni syahdu Ayu Ting-ting, atau lagu aselole. Atau, beatdown ala hardcore, merangsang kepala tunduk-tunduk. Bahwa, aparat sekalipun akan hapal di luar kepala, bernyanyi dan berjoget ala india chaiya chaiya. Gila? Terserah apa kamu bilang. Gaya menyetir orang-orang auditorial cenderung santai. Dengan headset terpasang di telinga kapanpun. Buat mereka, itu adalah penyikapan mereka yang sangat rileks mendalam terhadap sesuatu. “Lupakanlah sejenak realitas, mari bersama-sama mendamaikan hati sejenak”, kata mereka dengan menenggak anggur, sambil menikmati lagu sendu blues B.B King. Bingung di perempatan jalan. Tak perlulah repot-repot, menyalip atau bersaing dengan pengendara motor lain. Tujuan kita sama, janganlah terburu-buru.

Orang-orang kinestetik cenderung otot-ototnya mengalir darah yang deras. Mereka cenderung tidak bisa diam, tidak mau waktu terbuang sia-sia hanya untuk sekedar ngopi, atau duduk-duduk di jalan. Nonton film, teater, kirab budaya atau sejenis apapun itulah. “Buang-buang waktu saja, mending kita kerja. Punya uang sendiri, beli-beli sendiri. Ke mall pake uang sendiri, apapun buat kita sendiri”. Orang-orang kinestetik cenderung sendirian, mempunyai dunia sendiri, authis. Tingkat sosialisasi mereka rendah. Tapi, produktivitas kerja mereka stabil, tak naik, juga tak turun. Gaya berkendara yang serba terburu-buru. Suka salip sana-salip sini, umpat sana-umpat sini. Pokoknya hidup mereka tidak tenang. Orientasi dunia mereka Cuma pada uang, mobil mewah. Tanpa perenungan sama sekali. Apapun yang dikatakan orang lain, dan kebetulan mereka sependapat iya-iya saja. Kerja beres, bonus juga beres. Yang penting uang masuk brankas, makan, buang hajat, tidur, besok kerja lagi, salip-sana-salip sini, umpat sana-umpat sini. Lagi, dan terus begitu lagi. Pakai motor sudah berasap, atau gedhe pun peduli setan. Ini aku, bukan kamu. Aku aku, kamu kamu.
——————————————————————————————————————————————
Kembali lagi, kenapa dan ada apa dengan saya?. Saya tidak mau dikelompokkan dari pengelompokan di atas. Begitu juga dengan anda?. ( Terus, kenapa saya mengelompokkan ). Ya sudah, daripada berdebat dengan bahasa-bahasa ilmiah yang tak jelas, ego-ego yang membuncah atau ketidakpedulian mahabesar dari kita. Maka, marilah kita bicara tentang penyikapan. Oh, jangan bicara. Mari kita lakukan!!

Saya malas balapan dengan anda yang punya sepeda super canggih dengan modifikasi upgrade mesin gila-gilaan. Saya tahu, sepeda tua, kumal saya ini tidak akan mampu untuk itu. Apalagi di jalan lurus dan sepi. Mustahil, saya berhasil memenangkan perlombaan ini. Saya tahu, ketika jalan lagi macet, anda tidak akan mau atau tidak mungkin menggok sana-menggok sini, mencari jalan lain, di sela-sela mobil-mobil, atau pinggiran jalan kecil yang sebenarnya mustahil kamu lakukakn dengan mobil sebagus milikmu, sepeda motor sebagus milikmu. Gengsi dong!. Sebaliknya, saya dengan santai melenggak-lenggok mencari jalan-jalan sempit dan akhirnya ada di depan lagi. Walau, memang setelah akhirnya saya kalah lagi kalau dihadapkan di jalan yang lurus dan sepi.
——————————————————————————————————————————————
Tiga kecenderungan cara belajar di atas pada akhirnya membentuk sebuah pemandangan keseharian yang bisa kita lihat. Mereka membentuk koloni sendiri dengan yang berkeperibadian sama. Atau, membentuk korporasi dengan satu orang titik sentral sebagai pengendali otoritas. Atau, duduk-duduk santai di beranda rumah mendengarkan radio sambil minum kopi.

Orang-orang berhasil katanya punya neraca yang seimbang diantara ketiga metoda tadi. Sayang, kita tidak dilahirkan untuk seperti itu. Dan, biarlah orang-orang berhasil yang berhasil, dan selamat datang di dunia bagi yang tidak. Jangan menyerah, jangan putus asa.

Kesimpulan dari pengelompokan diatas adalah, bagaimana modernnya orang-orang visual dengan manajemen kehidupan mereka yang sudah menargetkan untuk umur segini, kita harus dapet ini, harus dapet itu.
Betapa bahagianya orang-orang auditorial, menyelesaikan masalah-masalahnya dengan serileks mungkin.
Dan, begitu menghenyakkan kita, orang-orang kinestetik yang dengan begitu gampang, memutarbalikkan orang-orang yang suka bedebat dengan fakta berupa artefak. Bukan lagi hanya sebuah ide abstrak saja.

Intinya, wujud sebuah kebudayaan juga ada tiga ; IDE, PERILAKU DAN ARTEFAK. Budaya adalah proses belajar. Teruslah belajar dari pengalaman, buatlah masa depanmu cerah, dan jangan lupa terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ah, Equilibrium. Kekacauan yang indah, juga lucu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 283 other followers