Jurnalisme ; Sebuah Perayaan dan Ancaman

September 27, 2011

Jurnalisme hadir di tengah-tengah anda, sebagai tanda perayaan gegap gempita hiruk pikuk manusia. Bersamaan dengan itu, hadirlah perayaan kedua. Sebuah ancaman.

Sebenarnya, terlalu dini kalau saya membicarakan masalah ini. Tapi, prinsip “peduli setan” dalam diri saya lebih inisiatif ambil lajur kemudi. Dengan masih berstatus sebagai akademisi (?), pengalaman yang sangatlah minim, dan banyak lagi sisi gelap dalam diri saya.Sudahlah, saya tidak mau bicara IP berapa, ikut BEM, atau organisasi-organisasi apalagi ikut partai atau bahkan jihad, mendirikan negeri sendiri.

Yang pasti, intensitas gesekan tubuh saya dengan seni dan musik lebih berpengaruh dalam diri. Karena kuliah itu sampingan, kerja juga sampingan. Pada akhirnya, kehendak akan bebas adalah hal paling primer dalam diri saya. Ada ruang dan masanya sendiri, saya harus ambil posisi berdiri. Hal ini, kadang sangat perlu, menarik diri untuk menjaga kadar over-subjectivism. Bebas itu untuk berdiri ditengah-tengah ( netral ), merayakan perbedaan sekaligus menelanjangi, menertawakan dan menghargai diri sendiri. Inilah Jurnalisme, dengan kekuasaan dan kelalaiannya.

Objektivitas memang jadi barang sakral di benak orang-orang. Menjadi semacam berhala, proses panjang jalan kebenaran. Masalahnya kita bukan dewa. Gak ada manusia sesempurna nirwana. “Dharma memang pelik”, kata Karna.

Sebagai seorang kesatria, seharusnya dia membela golongan pandawa. Tapi, ia menolak. Ia percaya, sebuah Dharma tidak pernah memihak bendera. Dharma itu semu, masalah rasa. Dia tetap membela Kurawa, karena sudah bersumpah sedari dulu untuk membela rajanya dalam keadaan apapun. “Aku rela dicap sebagai sebagai pengkhianat. Aku tahu, Kurawa harus dipaksa perang, agar tandas, agar hilang, Aku tak peduli!! “, kata Karna pada Krishna yang terdiam setelah cukup lama berdebat.

Mungkin, hal yang sama dialami, wartawan Harian Bernas ; Fuad Muhammad Sjafrudin yang mati, tanpa diketahui pelakunya. Sampai sekarang. Itu semua adalah masalah pilihan. Dan, kita terpacu untuk menjadi selamat, sebagai Pandhawa. Dan, terpaksa kaum-kaum objektivisme harus jadi korban kesakralan Pandhawa kini. Pandhawa berdasi, bermodal besar, menjadi kalangan elit dalam strata atas. “Pengarang telah mati”, kata Sapardi. Dan, objektivitas semakin melemas.

***

Kita adalah generasi yang bingung. Generasi mabuk kepayang. Gaul, PNS, Pejabat, Pengusaha, Populer, Pintar, Beradab, Agamis dan segala macam konsep nilai-nilai yang dengan ambisius kita kejar.

Kotak-kotak berwarna di rumah-rumah kita itu sibuk bermimpi. Setiap sajian, bertolak dari sebuah naskah. Naskah buatan manusia-manusia imajinatif. Kita, terbuai. Terpenjara dalam ambisi, susah payah meraih identitas tersebut. Atau, Kotak-kotak itu menjual mimpi??.

Menurut saya, okelah!! Selama kesenjangan sosial antara “tuan tanah”, pekerja dan petani , itu sederajat. Selama kesenjangan itu timpang, itu anjing!!.

“ A dream you dream alone is just a dream, a dream you dream together is reality – Jhon Lennon “.
Mimpi hanya akan jadi mimpi, realitas tetap berjalan di tempatnya. Berharaplah beruntung, itu saja.

Jurnalisme, pada akhirnya adalah runtutan. Mati di tiang gantungan, atau terseok-seok diperbudak mimpi-mimpi besar kaum borjuis.

Jurnalisme hadir di tengah-tengah anda, sebagai tanda perayaan gegap gempita hiruk pikuk manusia. Bersamaan dengan itu, hadirlah perayaan kedua. Sebuah ancaman.

Advertisement

6 Responses to “Jurnalisme ; Sebuah Perayaan dan Ancaman”

  1. avezahra said

    jangan ke-jurnalisan-mu itu dijajah realita. terserah apa kata dunia saja. gimana??

  2. Kasihan anak-anak kecil dijejali Band Smash, Mayat Teroris, Ledakan Bom. Kasihan orang-orang miskin dipaksa meratap2, dapet rumah baru tiba2. Kasihan hantu-hantu di rumah kosong diganggu terus sama manusia. Selera kita disetir media. Nasib kita disetir.

  3. tomorrow never dies—judul sebuah film propaganda media, fiksi tentang simulakra media, simulakra kita

  4. Anti Kafir said

    Just Say NO to Liberalisme

  5. avezahra said

    ketika jurnalistik bungkam, sastra segeralah berbicara :)

  6. Dino said

    terkadang menjadi jurnalis itu capek. bayarane titik (baca: apalagi yang idealis) #Oops

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 283 other followers