( Aberdeen, Washignton – Lake Washington, Seattle — 20 Februari 1967 – 5 April 1994 )

Hari ini, tepat 45 tahun yang lalu, Kurt Donald Cobain lahir dan besar dalam keluarga yang baik-baik saja. Dari segala segi baik finansial, rasa afeksi dan fasilitas sudah cukup bahkan sangat memadai. Hingga ketika umur 8 tahun, dia dihadapkan pada atmosfer perceraian kedua orang tuanya. Hal itu cukup membuat dirinya terguncang. Seorang Kurt muda yang sentimental dan cukup manja pada akhirnya lebih memilih lari dari masalah dan menjadikan heroine sebagai ganti belaian kasih sayang orang tuanya yang tak lagi didapatnya.

Dalam suasana yang kacau balau, Kurt yang tak hanya dirundung oleh perceraian kedua orang tuanya, tapi juga respek lingkungan sosial terhadapnya yang sangat represif, belum lagi obsesi-obsesi tinggi yang menjadikan hari-harinya di selimuti dengan perilaku-perilaku self destruction. Kurt adalah seorang sentimental, bodoh sekaligus jenius dalam bidang seni. Ia merupakan seniman avant-garde, yang berpegang teguh pada orisinalitas karyanya, ia percaya penuh dengan insting yang dimilikinya. Hal itu tentu saja bagi kalangan orang umum adalah sebuah anomali, penyimpangan sosial.

Di lain sisi, ia juga seorang pahlawan bagi kalangan kaum kucel di Aberdeen dan Seattle, dalam upaya meruntuhkan tembok kemegahan musik hits ketika itu, khususnya Guns`n Roses. Kurt adalah ikon kaum papa yang memberi sebuah peringatan bahwa dunia tidak sekedar baik-baik saja. Bahwa mereka, kaum papa juga mampu mengacaukan dunia lewat keberisikan dan kebisingan. Tentu saja di telinga kaum elit, Kurt masuk daftar orang yang harus segera mati.

Ah, mungkin Axl Rose terlalu sibuk dengan konsep selebrasi di atas panggung, kalung emas dan lengkingan suara tenornya. Sehingga ia tak memperhitungkan sama sekali akan eksistensi pemuda dari daerah kumuh, kacau, sinting, manja dan tampan ini yang perlahan mulai menendang bokongnya keras-keras sambil cekikikan lalu melengos pergi.

Dan, adalah bodoh jika seorang jurnalis proletarian dan institusi pers masa itu mengacuhkannya dan tidak mengupas si bengal ini dari berbagai macam poros. Meski memang jika pilihan untuk mengulas habis kehidupannya, pada akhirnya berdampak pada tekanan kejiwaan seorang Kurt yang tak siap akan perangai umum sebuah media massa.

Pada akhirnya, Kurt memilih senapan Remington M-11 untuk mengukuhkan dirinya sebagai iconoclast , duduk tenang di singgasana Rock `n Roll sepanjang masa sambil memakai kaca mata besar sebagai cibiran atau gaya-gayaan saja meniru Buddy Holly pada umur 27.

Tapi, mengingat peristiwa ini tak hanya dialami oleh Kurt semata, maka muncullah dugaan-dugaan kuat tentang konsep 27club adalah rekayasa semata. Kalau memang konsep 27Club adalah konspirasi hitam media-media korporasi atau bahkan istrinya, sahabatnya, managernya, adalah setengah benar. Semua orang di dunia gak mungkin menolak milyaran pundi-pundi uang terus mengucur setiap waktu di rekeningnya.

Bagi orang avant-garde macam Kurt pun peduli setan, Ia telah menemukan zat adiktif penawar rasa sakitnya dengan dosis lebih tinggi daripada morphin, heroine, atau bahkan ganja sekalipun , di atas sana. Ia tersenyum bahagia di sana menertawakan dunia, Courtney dan anaknya, Frances yang bermata biru nan manis.

“ Hey, Bangsat!! Bangun. Aku tak mau melahirkan anak ini sendirian”, bentak Courtney pada Kurt yang sedang menyuntikkan heroin di tangannya. Hingga semakin ke sini, seorang Frances Cobain sudah mulai dewasa, dan menemukan dirinya menjalin cinta dengan seseorang yang mirip ayahnya, Son of a gun.

Selamat Ulang Tahun, Kurt !! :)

Entah, kopi hari ini rasanya getir, tak nikmat sama sekali. Jalanan juga banyak kacaunya. Orang-orang pada seenak udelnya sendiri. Sampai-sampai saya terpaksa lagi ( Entah yang keberapa) harus menendang pantat mobil Alphard yang menyerempet saya. Sedangkan di depan samping saya sedang berjalan pak tua lagi ngangkut barang dagangannya berjalan kaki. Saya ingat mobilnya berhenti dan memanggil saya. Aku ambil dan pakai dulu sandal saya yang sempat terlepas. Lantas aku hampiri dia, aku acungkan jari tengah tanpa banyak omong, dan melengos pergi. “Bicara itu mudah, pak!! Untung saya belum punya pistol tadi”. Untung tak ada polisi. Ada pun saya lebih baik kabur. Atau, pak tua tadi yang jadi korban?. Lebih baik mobil penyok daripada mencecerkan dagangan pak tua.

Baru kemarin malam saya ke rumah kawan kolektor pita hitam gila-gilaan dan saling bertukar cerita. Sampai saya ingat dia tidak menyangka kalau saya sedikit punya “kelainan” di balik wajah cupu saya. Sebentar, apakah saya secupu itu?. Saya coba lagi menggali memori masa lalu.

Jaman masih SMP, saya sudah sering makan gak bayar, mencuri jajan di kantin, coret-coret toilet sekolah sendiri. Bukannya saya pendiam, tapi saya suka melakukan itu semua sendirian, tanpa perencanaan. Alasan waktu itu sih, uang saku saya sedikit. Biaya sekolah sudah mahal. Ya sudah, kemiskinan gak menyediakan banyak pilihan bukan?. Tapi, justru dari keadaan ini kamu akan merasa beruntung jika bisa mengombinasikannya dengan berbagai macam cara. Di bantu dengan tatakan wajah polosmu.

Jaman SMA kebiasaan ini terus berlanjut. Lama-lama saya juga mempertanyakan orang tua saya kenapa di masukkan ke sekolah yang mahal. Agamis?. Sama aja, di sini sholat, ngaji cuma fungsinya Cuma agar terbiasa, hapal dan berlanjut sebagai pencitraan sebagai anak-anak sholeh. Sudah biaya mahal, jajan di koperasi juga mahal. Kalah deh sama warung kecil sebelah rumah. Pernah sekali ketahuan dan dikejar sampai ke kelas-kelas. Untung saja dia capek lari, atau tidak mau aku mengutarakan alasanku di ruang BP (meski jelas-jelas salah nantinya). Aku terselamatkan oleh wajah polosku, sekali lagi. Ku kira guru ini hapal mukaku, ternyata pas ketemu dia diam saja.

Pernah ada kejadian lucu. Telah ditemukan kaset bokep, dan berpuluh-puluh anak menjadi tersangka sampai anak-anak yang jelas-jelas tidak menonton bokep pun kena. Akhirnya, saya menulis di tembok belakang sekolah “L****n itu babi apa manusia? Iblis aja punya hati”. Gak logis sih, tapi ternyata ini cukup menampar guru saya. Akhirnya saya berdiri di depan banyak guru termasuk kepala sekolah di aula masjid. Teman saya di samping Cuma geleng-geleng kepala. Saya berusaha memaparkan dengan nada slengean, sebelum diam dibentak kepala sekolah. Pertanyaanya adalah kenapa saya tidak dikeluarkan?. Apa karena masalah kebodohan guru ini tidak baik untuk di ketahui publik? Atau takut karena dengan dikeluarkannya saya akan semakin berbahanya posisi sekolah ini. Lebay ya?

Kemudian saya bergumam dalam hati,

“Yang kacau itu saya apa orang-orang sih?. Kalau saya yang kacau, kenapa tidak sedari dulu saya dibuang, di kucilkan, atau sekalian di matikan. Di penjara saja cuman semalam. Belum puas aku rasanya di pukuli malam itu. Kalau yang kacau orang-orang kan tak apa, berarti saya Cuma tinggal membela diri saja kan?.”

Dan sekarang, rupa-rupanya dunia kampus mencoba menguji batas kesabaran saya. Di mulai dari birokrasi tai anjing!, Dosen-dosen feodal, pemilu BEM. Aduh, saya cuman bisa tersenyum kecut melihat ini semua.

Kenapa jadi mahasiswa?

Saya tanya balik,
Kemana saja seharian? Mabuk?

Hidup sudah di tata sedemikian rupa. Melawan juga percuma.
Hidup itu susah, hidup itu berat. Lebih baik berkesenian saja

Atau, lihat TV saja banyak acara bagus bikin bahagia. Keluar rumah sedikit saja, kau akan kecewa :)

Bahagia Itu Sederhana

October 20, 2011

Kalau surga ada di kaki ibu. Surga kedua ada di ketiak kawan-kawanmu. Jangan memimpikan taman firdaus di siang terik bolong. Karena di kaki, dan ketiak kawan-kawanmu adalah sebuah kemungkinan dalam setiap ketidakmungkinan. Karena bahagia itu sederhana. Meminta lebih itu pasti. Tapi, bahagia itu ternyata sederhana, meski bau.

Ini ada video album baru dari Coldplay – Paradise. Lumayan memaksakan lead yang saya tulis di atas. Tapi, gajah ini lebih tahu apa itu “bau”. Kebahagiaan adalah kebebasan. Tapi, percuma kalau bebas tapi sendirian. Padahal, kebebasan ada di sekitar kita. Tempat itu ada di ketiak kawan-kawan kita yang “bau”. Sudahlah, Enjoy!! :)

When she was just a girl
She expected the world
But it flew away from her reach so
She ran away in her sleep
And dreamed of
Paradise
Every time she closed her eyes

When she was just a girl
She expected the world
But it flew away from her reach
And the bullets catch in her teeth
Life goes on, it gets so heavy
The wheel breaks the butterfly
Every tear a waterfall
In the night the stormy night she’ll close her eyes
In the night the stormy night away she’d fly

And so lying underneath those stormy skies
She’d say, “I know the sun must set to rise”

This could be
PARADISE

Ada tiga kecenderungan cara belajar dari setiap individu. Yang akhirnya untuk sementara dijadikan sebuah metode atau modal. Dari bahasa ilmiah disebutlah metode visual, auditorial dan kinestetik. Intinya metode visual lebih cenderung ke arah berimajinasi, berpikir. Lalu metode auditorial, ditemani kepekaan labih kita terhadap bebunyian di sekitar yang membuat kita rileks sehari-hari. Lalu, kemudian metode kinestetik yang lebih mengarah ke orang-orang yang tidak bisa diam, authis atau seperti kuli yang lebih unggul di fisik dalam proporsi yang sangat besar.

Sepertinya saya adalah alien. Sengaja saya definisikan seperti itu. Saya jarang niat sekali duduk serius menonton TV, punya koneksi internet di rumah pun tak banyak saya manfaatkan untuk upgrade, update atau apapun itulah namanya. Cuma saya andalkan untuk posting, tugas dan hal-hal privasi. Biasalah, orang-orang sakit kayak gini sudah mati rasa. Sadar gak sadar itu kondisional. Tapi, alien juga sangat berbahaya. Invasinya dengan diam, lebih daripada sekedar bom buku.

Waktu saya banyak habis di jalan-jalan. Merayakan sampai sesak, hiruk pikuk kehidupan manusia. Kawan, lawan, orang-orang sakit, orang-orang waras, berdasi ataupun ber-koteka sekalipun. Kota Malang sudah mulai macet, sudah mulai banyak asap dan buat saya itu kacau. Tapi, tersenyumlah. Biarkan mereka berlari. Berlalri sampai mati, mengejar kebahagiaan menurut mereka sendiri-sendiri.

Kecenderungan cara belajar pun juga tercermin dalam perilaku seseorang ketika mengendarai motor.
——————————————————————————————————————————————

Orang-orang visual cenderung peka pada matanya, pada warna, rapi, teratur jelas tujuannya, masa depannya. Entahlah mereka bangga atau merasa congkak mempunyai mobil yang berwarna cerah, berbadan gede, sampai-sampai orang lain seakan-akan tidak boleh menyalip dari sisinya. Atau, pengendara sepeda motor yang sangat cerdas dengan mengombinasikan, memodifikasi mesin-mesin, airbrush dan segala macam aksesoris lainnya. Tak peduli itu produk China, Amerika, Zimbabwe atau beli second di pasar bekas Comboran misalnya. Yang paling primer kan mereka setidaknya bisa menjaga status mereka di depan khalayak. Khalayak?. Semoga saya bukan termasuk di dalamnya. Mereka-mereka ini adalah perencana yang baik buat masa depannya. Modern, ekslusif, gaul, dan lain-lainlah. Seperti yang dikemukakan orang-orang kebanyakan, “ Kita dewasa ini adalah generasi visual. Gak usahlah repot-repot buat tulisan penuh. Saya tidak mengerti. Buatlah sesimple mungkin, lugas, tak-tis dan jelas.” Begitulah idiom-idom apologi mereka. Dan, impactnya bisa kita lihat di kejadian sehari-hari di sekitar kita.

Orang-orang auditorial cenderung pada telinga. Sensor bebunyian yang nyaris kuat. Bahwa hidup itu indah. Musik, bebunyian alam, harmoni syahdu Ayu Ting-ting, atau lagu aselole. Atau, beatdown ala hardcore, merangsang kepala tunduk-tunduk. Bahwa, aparat sekalipun akan hapal di luar kepala, bernyanyi dan berjoget ala india chaiya chaiya. Gila? Terserah apa kamu bilang. Gaya menyetir orang-orang auditorial cenderung santai. Dengan headset terpasang di telinga kapanpun. Buat mereka, itu adalah penyikapan mereka yang sangat rileks mendalam terhadap sesuatu. “Lupakanlah sejenak realitas, mari bersama-sama mendamaikan hati sejenak”, kata mereka dengan menenggak anggur, sambil menikmati lagu sendu blues B.B King. Bingung di perempatan jalan. Tak perlulah repot-repot, menyalip atau bersaing dengan pengendara motor lain. Tujuan kita sama, janganlah terburu-buru.

Orang-orang kinestetik cenderung otot-ototnya mengalir darah yang deras. Mereka cenderung tidak bisa diam, tidak mau waktu terbuang sia-sia hanya untuk sekedar ngopi, atau duduk-duduk di jalan. Nonton film, teater, kirab budaya atau sejenis apapun itulah. “Buang-buang waktu saja, mending kita kerja. Punya uang sendiri, beli-beli sendiri. Ke mall pake uang sendiri, apapun buat kita sendiri”. Orang-orang kinestetik cenderung sendirian, mempunyai dunia sendiri, authis. Tingkat sosialisasi mereka rendah. Tapi, produktivitas kerja mereka stabil, tak naik, juga tak turun. Gaya berkendara yang serba terburu-buru. Suka salip sana-salip sini, umpat sana-umpat sini. Pokoknya hidup mereka tidak tenang. Orientasi dunia mereka Cuma pada uang, mobil mewah. Tanpa perenungan sama sekali. Apapun yang dikatakan orang lain, dan kebetulan mereka sependapat iya-iya saja. Kerja beres, bonus juga beres. Yang penting uang masuk brankas, makan, buang hajat, tidur, besok kerja lagi, salip-sana-salip sini, umpat sana-umpat sini. Lagi, dan terus begitu lagi. Pakai motor sudah berasap, atau gedhe pun peduli setan. Ini aku, bukan kamu. Aku aku, kamu kamu.
——————————————————————————————————————————————
Kembali lagi, kenapa dan ada apa dengan saya?. Saya tidak mau dikelompokkan dari pengelompokan di atas. Begitu juga dengan anda?. ( Terus, kenapa saya mengelompokkan ). Ya sudah, daripada berdebat dengan bahasa-bahasa ilmiah yang tak jelas, ego-ego yang membuncah atau ketidakpedulian mahabesar dari kita. Maka, marilah kita bicara tentang penyikapan. Oh, jangan bicara. Mari kita lakukan!!

Saya malas balapan dengan anda yang punya sepeda super canggih dengan modifikasi upgrade mesin gila-gilaan. Saya tahu, sepeda tua, kumal saya ini tidak akan mampu untuk itu. Apalagi di jalan lurus dan sepi. Mustahil, saya berhasil memenangkan perlombaan ini. Saya tahu, ketika jalan lagi macet, anda tidak akan mau atau tidak mungkin menggok sana-menggok sini, mencari jalan lain, di sela-sela mobil-mobil, atau pinggiran jalan kecil yang sebenarnya mustahil kamu lakukakn dengan mobil sebagus milikmu, sepeda motor sebagus milikmu. Gengsi dong!. Sebaliknya, saya dengan santai melenggak-lenggok mencari jalan-jalan sempit dan akhirnya ada di depan lagi. Walau, memang setelah akhirnya saya kalah lagi kalau dihadapkan di jalan yang lurus dan sepi.
——————————————————————————————————————————————
Tiga kecenderungan cara belajar di atas pada akhirnya membentuk sebuah pemandangan keseharian yang bisa kita lihat. Mereka membentuk koloni sendiri dengan yang berkeperibadian sama. Atau, membentuk korporasi dengan satu orang titik sentral sebagai pengendali otoritas. Atau, duduk-duduk santai di beranda rumah mendengarkan radio sambil minum kopi.

Orang-orang berhasil katanya punya neraca yang seimbang diantara ketiga metoda tadi. Sayang, kita tidak dilahirkan untuk seperti itu. Dan, biarlah orang-orang berhasil yang berhasil, dan selamat datang di dunia bagi yang tidak. Jangan menyerah, jangan putus asa.

Kesimpulan dari pengelompokan diatas adalah, bagaimana modernnya orang-orang visual dengan manajemen kehidupan mereka yang sudah menargetkan untuk umur segini, kita harus dapet ini, harus dapet itu.
Betapa bahagianya orang-orang auditorial, menyelesaikan masalah-masalahnya dengan serileks mungkin.
Dan, begitu menghenyakkan kita, orang-orang kinestetik yang dengan begitu gampang, memutarbalikkan orang-orang yang suka bedebat dengan fakta berupa artefak. Bukan lagi hanya sebuah ide abstrak saja.

Intinya, wujud sebuah kebudayaan juga ada tiga ; IDE, PERILAKU DAN ARTEFAK. Budaya adalah proses belajar. Teruslah belajar dari pengalaman, buatlah masa depanmu cerah, dan jangan lupa terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ah, Equilibrium. Kekacauan yang indah, juga lucu

Jurnalisme hadir di tengah-tengah anda, sebagai tanda perayaan gegap gempita hiruk pikuk manusia. Bersamaan dengan itu, hadirlah perayaan kedua. Sebuah ancaman.

Sebenarnya, terlalu dini kalau saya membicarakan masalah ini. Tapi, prinsip “peduli setan” dalam diri saya lebih inisiatif ambil lajur kemudi. Dengan masih berstatus sebagai akademisi (?), pengalaman yang sangatlah minim, dan banyak lagi sisi gelap dalam diri saya.Sudahlah, saya tidak mau bicara IP berapa, ikut BEM, atau organisasi-organisasi apalagi ikut partai atau bahkan jihad, mendirikan negeri sendiri.

Yang pasti, intensitas gesekan tubuh saya dengan seni dan musik lebih berpengaruh dalam diri. Karena kuliah itu sampingan, kerja juga sampingan. Pada akhirnya, kehendak akan bebas adalah hal paling primer dalam diri saya. Ada ruang dan masanya sendiri, saya harus ambil posisi berdiri. Hal ini, kadang sangat perlu, menarik diri untuk menjaga kadar over-subjectivism. Bebas itu untuk berdiri ditengah-tengah ( netral ), merayakan perbedaan sekaligus menelanjangi, menertawakan dan menghargai diri sendiri. Inilah Jurnalisme, dengan kekuasaan dan kelalaiannya.

Objektivitas memang jadi barang sakral di benak orang-orang. Menjadi semacam berhala, proses panjang jalan kebenaran. Masalahnya kita bukan dewa. Gak ada manusia sesempurna nirwana. “Dharma memang pelik”, kata Karna.

Sebagai seorang kesatria, seharusnya dia membela golongan pandawa. Tapi, ia menolak. Ia percaya, sebuah Dharma tidak pernah memihak bendera. Dharma itu semu, masalah rasa. Dia tetap membela Kurawa, karena sudah bersumpah sedari dulu untuk membela rajanya dalam keadaan apapun. “Aku rela dicap sebagai sebagai pengkhianat. Aku tahu, Kurawa harus dipaksa perang, agar tandas, agar hilang, Aku tak peduli!! “, kata Karna pada Krishna yang terdiam setelah cukup lama berdebat.

Mungkin, hal yang sama dialami, wartawan Harian Bernas ; Fuad Muhammad Sjafrudin yang mati, tanpa diketahui pelakunya. Sampai sekarang. Itu semua adalah masalah pilihan. Dan, kita terpacu untuk menjadi selamat, sebagai Pandhawa. Dan, terpaksa kaum-kaum objektivisme harus jadi korban kesakralan Pandhawa kini. Pandhawa berdasi, bermodal besar, menjadi kalangan elit dalam strata atas. “Pengarang telah mati”, kata Sapardi. Dan, objektivitas semakin melemas.

***

Kita adalah generasi yang bingung. Generasi mabuk kepayang. Gaul, PNS, Pejabat, Pengusaha, Populer, Pintar, Beradab, Agamis dan segala macam konsep nilai-nilai yang dengan ambisius kita kejar.

Kotak-kotak berwarna di rumah-rumah kita itu sibuk bermimpi. Setiap sajian, bertolak dari sebuah naskah. Naskah buatan manusia-manusia imajinatif. Kita, terbuai. Terpenjara dalam ambisi, susah payah meraih identitas tersebut. Atau, Kotak-kotak itu menjual mimpi??.

Menurut saya, okelah!! Selama kesenjangan sosial antara “tuan tanah”, pekerja dan petani , itu sederajat. Selama kesenjangan itu timpang, itu anjing!!.

“ A dream you dream alone is just a dream, a dream you dream together is reality – Jhon Lennon “.
Mimpi hanya akan jadi mimpi, realitas tetap berjalan di tempatnya. Berharaplah beruntung, itu saja.

Jurnalisme, pada akhirnya adalah runtutan. Mati di tiang gantungan, atau terseok-seok diperbudak mimpi-mimpi besar kaum borjuis.

Jurnalisme hadir di tengah-tengah anda, sebagai tanda perayaan gegap gempita hiruk pikuk manusia. Bersamaan dengan itu, hadirlah perayaan kedua. Sebuah ancaman.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 283 other followers